Banner Utama
Advertisement

Kekecewaan Mendalam Pelatih Persita: Putranya Tak Boleh Berlaga di Piala Soeratin Akibat Berstatus WNA!

  • September 24, 2026
  • Aba Mardjani

TANGERANG — Pelatih Persita Tangerang, Carlos Pena, tak mampu menyembunyikan amarah dan rasa kekecewaannya setelah sang putra, Oriol Gonzalez, dilarang tampil pada ajang Piala Soeratin U-13 2026. Keputusan panitia penyelenggara mencoret Oriol memicu kritik pedas dari pelatih asal Spanyol tersebut.

Oriol yang saat ini memperkuat Young Warriors (tim akademi yang terafiliasi dengan Persija Jakarta) dinilai tidak memenuhi syarat kepesertaan hanya karena berstatus sebagai warga negara asing (WNA).

Melalui pernyataan resminya, Carlos Pena menyampaikan penolakan keras terhadap keputusan yang dianggapnya mencederai semangat inklusivitas dalam olahraga.

"Saya ingin menyampaikan ketidaksetujuan, kekecewaan, kesedihan, dan penolakan saya terhadap keputusan panitia penyelenggara Piala Soeratin U-13 2026 yang mengecualikan anak saya dari turnamen tersebut. Mengapa? Hanya karena dia adalah orang asing," tegas Carlos Pena.

Fasih Bahasa Indonesia dan Sudah Lahirkan Banyak Pertandingan

Pena menjelaskan bahwa putranya sudah sangat menyatu dengan kehidupan di Indonesia. Oriol telah menetap di tanah air sejak 2024, mengecap pendidikan di sekolah lokal, serta aktif berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia bersama teman-teman sebayanya.

"Anak saya sangat bahagia tinggal di Indonesia dan tidak ingin pergi. Keluarga kami telah tinggal di luar negeri selama hampir tujuh tahun di India, Thailand, dan tiga tahun terakhir di Indonesia. Negara ini telah menjadi bagian dari lebih dari separuh masa hidup anak-anak kami," lanjut mantan juru taktik Persija tersebut.

Selama menetap di Indonesia, Oriol tercatat sudah bertanding di lebih dari 15 turnamen usia muda, baik saat membela tim junior Persija maupun Young Warriors.

"Bagaimana cara saya menjelaskan kepada anak saya—setelah membesarkannya dengan keyakinan akan kesetaraan—bahwa dia tidak bisa bertanding bersama teman-teman dan timnya hanya karena warna paspornya?" ujar Pena dengan nada emosional.

Singgung Keberagaman di Timnas Indonesia dan Liga 1

Pena menilai sepak bola seharusnya menjadi wadah pemersatu dan pendorong inklusi bagi anak-anak, bukan justru menghadirkan batasan dan diskriminasi. Ia bahkan mencontohkan bagaimana sepak bola profesional Indonesia sendiri dibangun di atas prinsip keberagaman.

"Contoh terbaik dari keberagaman justru bisa kita lihat di Timnas Indonesia maupun kompetisi profesional kita, di mana pemain lokal, naturalisasi, dan pemain asing bekerja sama untuk memajukan sepak bola Indonesia," jelasnya, dilansior gsio news.

Ia mempertanyakan logika panitia yang menganggap partisipasi seorang anak WNA di turnamen usia dini sebagai sebuah masalah, padahal kehadiran pemain berbakat justru bisa meningkatkan kualitas persaingan antarpemain muda lokal.***